0

RESEP DAN TATA CARA MEMASAK LASAGNA

Posted by Ratu mefi on 17.31 in
LASAGNA
Bahan-bahan:












A. Bahan Adonan Daging:
- Bawang Bombay ¼ buah, cincang halus
- Bawang Putih 5 siung, cincang halus
- Jamur Champignon 100 gr, cincang halus
- Daging Cincang 500 gr
- Bay Leaf 2 lembar
- Kecap Asin 2 sdt
- Oregano 5 gr/sesuai selera
- Italian Seasoning 5 gr/sesuai selera
- Lada 5 gr/sesuai selera
- Gula 5 gr/sesuai selera
- Air matang 250 ml
- Olive oil 2 ½ sdm untuk menumis
B. Bahan Adonan Tomato:
- Bawang Bombay ¼ buah, cincang halus
- Bawang Putih 5 siung, cincang halus
- Tomato buah segar 400 gr, rebus, kemudian buang kulitnya, kemudian blender
- Tomato pasta 100 gr
- Tomato sauce 1 botol (340 ml)
- Garam 5 gr/sesuai selera
- Lada 5 gr/sesuai selera
- Gula 5 gr/sesuai selera
- Oregano 5 gr/sesuai selera
- Penyedap non msg sesuai selera, boleh tidak pakai
- Olive oil 3 sdm untuk menumis
C. Bahan Adonan Roux:
- Susu Cair 1 liter
- Tepung segitiga biru 130 gr
- Butter 80 gr
- Garam, Lada secukupnya
D. Bahan Lain:
- Noodle Pastry atau gunakan kulit pangsit kurang lebih 200 gr
- Keju Cheddar
- Keju Mozzarella
Cara Memasak:
A. Adonan Daging:
- Panaskan olive oil
- Masukkan Bawang Bombay, tumis hingga harum
- Masukkan Bawang Putih, tumis hingga harum
- Masukan Daging Cincang, tumis hingga merata
- Masukkan Jamur Champignon , tumis hingga matang
- Masukkan kecap asin, bay leaf, aduk
- Masukkan oregano, Italian seasoning, lada, garam, gula, garam. Cicipi, bilang kurang, tambahkan sesuai selera
- Masukkan air 250 ml, masak hingga air sat
- Sisihkan
B. Adonan Tomato:
- Panaskan olive oil
- Masukkan Bawang Bombay, tumis hingga harum
- Masukkan Bawang Putih, tumis hingga harum
- Masukkan Tomato Pasta, aduk
- Masukkan Tomato yang sudah diblender, aduk
- Masukkan Tomato Sauce, aduk
- Masukkan garam, lada, gula, oregano, penyedap
- Aduk, kemudian cicipi, bila kurang bisa tambahkan lg garam, lada, oregano sesuai selera
- Aduk-aduk terus hingga mengental
- Campurkan Adonan Daging dan Adonan Tomato
- Sisihkan
C. Adonan Roux:
- Panaskan Butter hingga mendidih
- Masukkan tepung dan aduk hingga tercampur rata
- Masukkan susu cair bertahap dan aduk terus hingga tercampur rata
- Sisihkan
D. Lasagna:
- Siapkan Loyang
- Tiap lapisannya kurang lebih tebalnya 1 cm
- Lapisan pertama: noodle pastry/kulit pangsit
- Lapisan kedua: adonan roux
- Lapisan ketiga: adonan daging
- Lapisan keempat: noodle pastry/kulit pangsit
- Lapisan kelima: adonan roux
- Lapisan keenam: adonan daging
- Lapisan ketujuh: noodle pastry/kulit pangsit
- Lapisan kedelapan: adonan roux
- Taburi dengan keju cheddar parut
- Taburi dengan keju mozzarella parut
- Panggang lasagna selama 20 menit dengan suhu 180 derajat
Voila! my home made Lasagna ;)


1

Dikirim ke Pelosok - desa seles,kalimantan barat

Posted by Ratu mefi on 09.55 in
Desa Seles Kecamatan Ledo Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat


1. Beberapa Aspek Struktur Masyarakat
Desa Seles terdiri dari empat dusun yaitu: Senapit, Seles, Tribun dan Sejaro. Desa tetangga Rodaya yang warganya akrab dengan warga desa Seles. Desa itu terletak di pinggir jalan raya ke Bengkayang yang terdiri dari tiga dusun, Segiro dengan 26 KK, Sedané 22 KK dan Baya 37 KK. Struktur masyarakat tiap dusun sedikit berbeda dari yang lain karena latar belakang historis dan adatnya tidak selalu sama.
Sebelumnya sudah digambarkan bahwa masyarakat dusun Seles baru berpisah dari Senapit dengan alasan untuk lebih dekat dengan ladang dan sungai yang terletak lebih strategis dan bisa bermanfaat bagi kemajuan dari sudut ekonomi mereka. Menurut informan, keturunan warga dusun Senapit dan Seles berasal dari tiga hubungan darah pokok atau klan. Kebanyakan masyarakat Seles berasal dari satu kekerabatan, tetapi mereka menerima dengan baik pendatang yang berniat tinggal di Seles. Desa seles pun desa yang sebagian besar ditinggali oleh suku dayak kanayatan.

Kelompok bahasa suku Dayak Kanayatan diklasifikasikan sebagai bagian keluarga dari bahasa induk Austronesia. Lebih persis sub keluarga bahasa Malayu-Polinesia Barat menurut sebuah organisasi ahli linguistik bernama Ethnologue. Suku Dayak Kanayatan berlokasi di utara dari Pontianak dan selatan dari perbatasan Malaysia-Indonesia. Kota yang penting di daerah suku Kanayatan adalah kota Bengkayang, Lumar, Sangga-Ledo, Salamantan, Menjalin, Darit, Ngabang dan Serimbu. Kelompok Kanayatan yang berbahasa Bakati tinggal di dusun Senapit, desa Seles, Kecamatan Ledo yang terletak di kaki gunung Seles.
Menurut salah satu sumber sekitar 42 persen atau sekitar 1,5 juta jumlah penduduk di Kalbar dari latar belakang etnis Dayak. Kebudayaan dan bahasa asli mereka beraneka ragam. Batas alam yang sulit diseberangi seperti; pegunungan, hutan lebat, sungai besar, lembah dan rawa merupakan garis yang memutus satu kelompok dari kelompok lain. Kita juga harus sadar bahwa perbatasan bahasa atau daerah bahasa tidak selalu sama dengan perbatasan atau daerah kebudayaan, dan tidak semua ahli mengikuti klasifikasi yang sama, kadang-kadang menyebabkan kebingungan.

Menurut informan lokal “Kanayatan” berarti dalam bahasa Indonesia (BI) “cara berbahasa”. Kelompok Kanayatan dibagi enam sub bahasa sebagai berikut:
Bakati, dalam BI berarti “tidak”. Bahasa itu punya setidaknya 5 logat termasuk Palayo, Rara, Lumar, Riuk dengan jumlah pembicara 4000 (1980). Bahasa ini mirip dengan bahasa Nyadu.
Nyadu, dalam BI berarti “tidak”. Bahasa ini punya setidaknya dua logat; Hulu Ngabang, Perigi, dengan jumlah pembicara mungkin 5000 (1981) Bahasa ini mirip dengan bahasa Bakati.
Ahé, dalam BI berarti “apa”. Bahasa ini punya dua logat, di Mempawah Hulu dan Sengah Temula, jumlah pembicara 30000 (1990). Juga, dikenal sebagai Ahé Dayak. Bahasa Ahé mirip dengan bahasa Jaré.
Jaré, dalam BI berarti “katanya”. Pembicara berada di Montrado dan Salmalantan dan daerah lain, jumlah pembicara belum dapat dipastikan.
Ampapé, dalam BI berarti “bagaimana”. Pembicara berada di Darit, Menyukee, dan daerah lain, jumlah pembicara belum dapat dipastikan. Bahasa ini mirip dengan bahasa Langin.
Langin, dalam BI berarti “tidak”. Pembicara berada di utara dari Ngabang, hulu sungai Landak dan Tubang, jumlah pembicara belum dapat dipastikan.

2. Mata Pencarian dan Seni
A. Kebutuhan Primer dan Hasil Hutan
Pada dasarnya kebutuhan pokok dipenuhi oleh lingkungannya. Sudah dikatakan sebelumnya bahwa Orang Dayak berburu dan berladang. Padi (Oriza Sativa) dari keluarga Poacerea adalah suatu yang paling penting dalam kehidupan Dayak. Keaneka-ragaman jenis bibit padi sangat tinggi. Masyarakat Dayak terdiri dari petani ladang berpindah-pindah. Ladang gunung baru dipilih dengan izin kepala desa. Pada umumnya hanya ladang yang ditanam setidaknya tujuh atau sepuluh tahun sebelumnya digunakan lagi. Tanah hutan yang semakin lama tidak digunakan untuk ladang semakin subur. Keuntungan lain dari ladang berpindah-pindah adalah karena setelah tanah cukup lama tidak digunakan menjadi hutan lagi sehingga tidak banyak rumput yang tetap hidup. Itu berarti ladang tidak perlu digarap secara intensif setelah padi muncul dan tumbuh.
Biasanya padi ladang di tanam pada bulan Agustus dan September, setelah ladang di bakar dan dibersihkan. Masyarakat tidak menggunakan alat-alat canggih dan juga tidak menggunakan tenaga hewan seperti kerbau atau sapi. Mereka hanya menggunakan parang, kapak, cangkul dan tenaga manusia untuk mempersiapkan ladang.
Petani-petani menggunakan abu dari kayu yang dibakar sebagai pupuk yang sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan padi di ladang. Seandainya ladang sudah siap untuk disebarkan bibit padi, petani membuat lubang dengan tongkat, setelah itu langsung beberapa bibit padi dimasukkan dan lubang ditutupi.
Ada upacara pada saat bibit padi ditanam dengan gaya melingkar dan memberi korban ayam sebagai sesajen. Selama masa tumbuh padi ada ritual dan memberi korban sesajen, supaya roh jahat dan baik merasa puas dan panen tidak gagal tetapi berlimpah. Pada waktu ritual sesajen ada pantangan makanan pada keluarga sesuai dengan yang disuruh oleh balian, misalnya tidak bisa makan rusa atau rebung selama beberapa minggu. Pesta besar bernama Gawai ada pada waktu panen.
Jenis bibit padi tidak dicampur dengan jenis bibit lain pada waktu ditanam, tetapi bagian ladang yang lain bisa digunakan untuk jenis tamanan lain. Di ladang mereka sering menanam sayur, ubi kayu (Manihot uthlissima), ubi jalar (Hamoea Batatas), jagung (Zea Mays), tebu (Saccharum off Tiongkokrum), ketimun (Cucumis SP) dan jenis lain.

Di desa Paham masyarakat mencoba menanam padi unggul, sejenis padi yang diluarkan oleh Dinas Pertanian. Petani sudah menanam jenis padi unggul dua kali dengan hasil yang kurang memuaskan, karena bibit unggul tidak tahan serangga dan kemungkinan jenis bibit unggul tidak cocok dengan kesuburan ladang dan jenis tanah mereka. Sekarang petani tidak berani lagi menanam bibit itu.
Kekayaan diversitas bibit padi petani tradisional sebenarnya jauh berbeda dengan diversitas bibit padi masyarakat yang lebih maju yang diversitas bibitnya lebih kecil. Sama dengan diversitas perkebunan tradisional dengan perkebunan yang modern. Perkebunan karet tradisional termasuk pohon buah-buahan, rotan dan tumbuh-tumbuhan lain yang bermanfaat bagi masyarakat dipelihara. Itu jauh berbeda dengan perkebunan monokultur kelapa sawit yang memerlukan banyak pupuk dan pestisida.
Obat-obatan pertanian atau pestisida dan herbisida sudah masuk daerah terpencil dan dikenal oleh petani tradisional. Ongkos buruh dengan ongkos penggunaan herbisida untuk membersihkan dan memudahkan penggarapan tanah hampir sama. Kelihatannya bahwa kebijakan perusahaan multi nasional herbisida menyadari ongkos potong rumput ladang secara manual dengan efek dan ongkos penggunaan Roundup sebagai alternatif yang ongkosnya hampir sama. Penggunaan obat-obatan di pelosok tersebar luas dan ladang padi tradisional tidak selalu bebas dari racun tersebut.
Gaji buruh di desa yang pekerjaannya tidak berat, seperti memotong rumput mendapat upah 10.000 rupiah per hari dan kerja berat seperti memikul barang mendapat upah sampai 20.000 rupiah per hari. Di daerah tradisional juga ada sistem kerja Belalé yang berarti tukar menukar tenaga kerja pada waktu yang berbeda, tidak ada pembayaran dalam belalé tetapi hanya tukar hari saja.
Pada zaman dulu padi yang berasal dari pegunungan yang ditanam di hulu sungai oleh masyarakat Dayak sangat diminati. Gabah dari ladang gunung bernilai tinggi dan ditukar atau dijual kepada pedagang Melayu yang mampir untuk menjual dan membeli barang yang diminati oleh masyarakat Dayak.
Dewasa ini harga beras terlalu rendah dan padi hanya ditanam untuk kebutuhan sendiri. Sekitar ibu kota Kapubaten Bengkayang diamati beberapa sawah yang tidak ditanami lagi pada musim tanam ini, sebab harga pasar yang diatur oleh pemerintah pusat tidak seimbang dengan ongkos dan usaha petani. Seandainya panen gagal atau hasil tidak cukup dengan kebutuhan hidup mereka maka keperluan beras dibeli di pasar. Ada beberapa tanaman yang khusus ditanam untuk dijual seperti kopi, jahe dan terutama getah dari pohon karet (Helvea brassiliensis), lada, dan jagung (Zea Mays). Bibit pohon karet masuk ke Indonesia pada zaman kolonial dan menjadi salah satu penghasilan pokok suku Dayak tradisional. Perkebunan tradisional karet di hutan sangat sesuai dengan lingkungannya. Banyak jenis pohon yang bermanfaat bagi masyarakat juga ditanam yang mengakibatkan keanekaragaman hayati hutan. Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya bahwa sekitar delapan bulan masyarakat menyadap pohon karet, selama empat bulan waktu musim hujan tidak bisa menyadap karet. Artinya masyarakat menyadap karet tergantung pada cuaca. Penghasilan per hari per 100 pohon karet sekitar lima kilogram yang sudah beku dan dijual ke perantara.
Lada adalah penghasilan agraris penting kedua di daerah Seles. Buahnya dijemur dan langsung dijual kepada makelar. Seandainya buah lada dicuci sebelum dijemur supaya kulit bijinya lepas maka nilainya lebih tinggi.
Selain pohon karet juga ada pohon lain dengan nilai ekonomi tinggi. Di daerah Seles tidak banyak pohon yang dapat ditebang untuk dijadikan papan. Dusun Seles yang terletak jauh dari jalan raya itu tidak banyak memiliki pohon yang cukup besar. Pohon buah-buahan sangat penting bagi masyarakat. Pohon-pohon tersebut antara lain adalah pisang yang ada banyak jenisnya seperti; pisang Mas, Palembang, Otel, Ambon, Selandang, Kapal, Kanyi, Nyawah yang berwarna merah, Bodol, Raja, Sejampu, Kapas, Kaok, Susu, Tandur dan yang untuk dimasak jenis pisang Pilin.
Ada juga perkebunan buah-buahan warisan dari nenek moyang dekat gunung Seles di bekas pemukiman lama. Walaupun lokasi rumahnya sudah kembali menjadi hutan, pohon buah-buahan yang dulu ditanam di sana masih ada. Pohon buah seperti; Rambutan (Nephilium Lapian), Cempedak (Anthogarfus Intersa), Durian, Manggis, Duku, dan Petai.
Di desa Seles ada perkebunan karet, ladang gunung dan hutan. Walaupun hutan tidak sama luasnya dengan pada waktu nenek moyang, berburu merupakan salah satu tradisi kaum laki-laki Dayak yang masih dilakukan. Binatang adalah salah satu sumber protein penting bagi masyarakat Dayak. Dulu pemburu-pemburu menggunakan senjata sumpit tetapi sekarang ada senapan, yang dalam bahasa Bakati disebut badil yang mereka buat sendiri. Kebanyakan pemburu memburu binatang sendirian dengan senjata senapan, mereka tidak berburu dalam kelompok. Pemburu menembak atau memasang perangkap untuk menangkap babi, rusa, kijang, landak, monyet, kera dan binatang lainnya.

B. Penambangan Emas
Di bagian selatan Kalbar sejak lama masyarakat Dayak melakukan dompeng atau Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI). Aktivitas PETI di sungai Teriak di desa Seles baru muncul beberapa tahun belakangan ini. Sekitar 50 rakit dan sampan dengan peralatan mesin disel dan pompa digunakan untuk mencari emas di dasar sungai dekat dusun Seles. Pada musim kemarau sungai menyusut sampai sekitar tujuh meter dalamnya sehingga pekerjaan penyelam tidak begitu sukar. Awak yang bekerja di rakit atau sampan berjumlah sekitar empat atau lima orang. Tugasnya terdiri dari menyedot air lumpur dari palung sungai yang disemprotkan di kain tebal yang berada di sampan dan menjaga selang udara penyelam dan selang air yang menyedot pasir dari palung sungai. Awak sampan bertugas mencuci hasil lumpur yang mengandung debu mas, memasak untuk karyawan di sampan dan mengambil solar dan juga keperluan lain yang harus didapat beberapa kilometer jaraknya dari dusun.

C. Seni
Seni adalah konsep yang terkait dengan segala aspek hidup sehari-hari orang Dayak. Mulai dari alat cangkul yang digunakan di ladang sampai patung kepercayaan yang dipahat memiliki nilai religi yang tinggi.
Salah contoh karya seni lain adalah sejenis alat dari bambu dan rotan yang bernama bubu untuk menangkap ikan, keong dan kepiting. Sebenarnya bubu adalah suatu kerajinan-tangan yang dibentuk dengan sangat indah. Dulu memang ada banyak peralatan sehari-hari seperti, pakaian, senjata, topeng, tikar, patung, keranjang, dan tempat untuk menyimpan beras yang diciptakan dan dibuat oleh masyarakatnya sendiri.
Pakaian khas Dayak dari kulit kayu masih dipakai pada waktu Perang Dunia Kedua. Waktu itu memang sulit sekali untuk mendapatkan kain untuk menjahit celana dan baju, itu alasannya masyarakat kembali menggunakan pakaian tradisional. Warna juga menjadi hal yang penting bagi orang Dayak. Dulu orang Melayu yang menjual kain kepada orang Dayak hulu sungai menyatakan bahwa hanya warna hitam dan merah yang diminati oleh orang Dayak. Sekarangpun warna hitam dan merah masih menjadi warna tradisional Dayak Kanayatan.
Di Senapit ada pondok adat warisan dari nenek moyang, yang tidak jauh dari gereja Katolik. Jarang orang yang masuk daerah itu lagi, terutama pemuda dan pemudi. Di sana ada beberapa patung yang bernama Raja Gandi, Niagun Nimpa, Gandi Amas dan Bereniyo yang mengandung nilai spiritual yang menjaga manusia dari kesialan dan membantu masyarakat mengatasi masalah. Balian di Senapit yang sudah cukup tua telah banyak lupa tentang hal yang diceritakan oleh orang tua mereka, seperti mengenai roh-roh dan tempat spiritual tersebut. Dulu memang masyarakat berkumpul di tempat suci itu pada waktu panen, menanam padi atau kalau ingin mengadakan perayaan yang besar. Tidak jauh dari patung ada tempayan kuno yang digunakan dalam upacara tradisional. Di atas tempat patung tradisional itu ada beberapa tengkorak yang bagian tulang atasnya diberi motif tradisional. Tengkorak di pondok suci adalah tengkorak hasil pengayauan oleh panglima pada zaman dulu.

3. Kehidupan di Desa Seles
Di dusun Senapit sebelum tahun 60-an ada empat rumah panjang yang dinding dan lantainya dibuat dari bambu. Pada waktu itu atap rumah dibuat dari daun sagu yang isi pohonnya juga digunakan sebagai bahan makanan. Pak Aloysius, salah satu tokoh masyarakat Senapit masih ingat ketika dia bermain di bawah salah satu rumah panjang yang berpintu 50 yang berarti dihuni oleh 50 kepala keluarga (KK).
Secara tradisional suku Dayak tinggal di tengah hutan di rumah panjang yang tingginya beberapa meter dari tanah sehingga penghuni menggunakan tangga untuk naik ke lantai rumah. Mereka tinggal di rumah panjang yang tinggi dari tanah supaya hidup lebih aman dari binatang ganas. Pada zaman dahulu hal itu juga dimaksudkan untuk menghindari musuh anggota suku Dayak yang mencari kepala manusia (ritual pengayau) sebagai bagian dari kepercayaan mereka. Menurut kosmologi mereka kegiatan mengayau dilakukan supaya mendapat kekuatan gaib yang menguntungkan bagi suku dan daerah mereka. Selain itu juga untuk mengusir roh jahat dan sesuatu yang tidak baik atau menyakitkan bagi kehidupan manusia.
Semakin lama semakin sering orang Dayak didesak oleh pihak dari luar untuk mengubah gaya pemukiman karena alasan kesehatan masyarakat, politik, pengamanan dan lain-lain. Setelah masyarakat tidak membangun rumah tradisional yang panjang dan tinggi lagi, masyarakat membangun sebuah rumah panjang langsung di atas tanah, bergaya Cina. Semakin lama semakin banyak orang Dayak membangun rumah sendiri dengan gaya arsitektur yang tidak lagi tradisional. Dewasa ini bentuk rumah tidak sama, keanekaragaman arsitektur yang digunakan oleh masyarakat sangat tinggi. Ada banyak rumah dengan lantai yang terbuat dari papan kayu atau dari semen, ada yang menggunakan atap dari daun sagu atau seng dan ada rumah yang bertingkat. Walaupun kebanyakan masyarakat kelihatannya egaliter, tetapi ada keluarga yang lebih mampu membeli barang mewah dari pada keluarga lain dan rumahnya lebih berkecukupan meskipun tidak berlebih-lebihan.
Jumlah penduduk di dusun Senapit stabil walaupun jumlah anak cukup besar tetapi ada banyak anak yang pindah keluar untuk mencari nafkah atau pendidikan di Bengkayang, Pontianak dan Jakarta. Juga ada pemuda yang mencari pekerjaan di Malaysia. Menurut adat mereka bebas untuk menikah di luar kelompok Kanayatan. Seandainya kesempatan lebih baik di tempat mertua, pasangan baru membangun rumah dan keluarga di sana. Pada umumnya sifat orang tua sangat liberal, pemuda tidak dipaksa oleh orang tua untuk menetap di Senapit, mereka bisa memilih sendiri tempat yang cocok untuk membangun keluarga atau memilih istri atau suami dari agama lain.
Ada harta milik bersama dan pribadi di dusun. Harta bersama terdiri dari tanah hutan yang digunakan untuk berladang dan berburu binatang. Tiap tahun pada saat tertentu tokoh masyarakat dan masyarakat musyawarah untuk memecahkan masalah pembukaan ladang di hutan dan urusan lain. Pada zaman dahulu seluruh masyarakat ikut perintah tokoh masyarakat mengenai arah mana membuka dan menggarap ladangnya. Dewasa ini semua warga desa bebas untuk membuka ladang dimana-mana di daerah bagian dusun Senapit di desa Seles. Sebelum membuka ladang harus memberitahukan lebih dulu dimana warga desa ingin membuka, supaya tidak mengganggu orang lain.
Harta pribadi adalah seperti sawah, kolam, perkebunan karet dan lada serta rumah pribadi. Harta pribadi atau hak tetap bisa ditukarkan atau diperjualbelikan antar kelompok di desa, tetapi perlu mendapat izin terlebih dahulu dari tokoh masyarakat, termasuk ketua adat, kepala dusun, dan kepala desa. Sejak lama masyarakat menyimpan kekayaan dalam bentuk emas. Seorang informan memberitahukan bahwa bapaknya menyimpan emas yang digunakan untuk membeli sawah dan kolam, supaya kebutuhan keluarganya terpenuhi.
Pada akhir tahun 2004 desa Seles terdiri dari empat dusun yaitu; dusun Senapit, dengan 45 Kepala Keluarga (KK), dusun Seles dengan 14 KK, dusun Tribun dengan 30 KK dan Sejaro dengan 30 KK. Dua dusun yang terakhir berlokasi tetap. Empat kelompok dusun yang merupakan desa Seles dengan pusat pemerintahan desa berada di dusun Seles. Pada tahun 1996 dusun Seles pecah dari lokasi Senapit dan pindah sejauh 5 kilometer jauh dari lokasi dusun Senapit, karena masyarakat berkeinginan tinggal dekat ladangnya, dekat dari sungai Seles dan sungai Teriak yang mengalir ke Ledo dan juga dekat ke jalan raya aspal yang jaraknya sekitar 15 km, supaya dusun dan warganya bisa berkembang lebih cepat.
Walaupun kelihatannya masyarakat Dayak egaliter, dewasa ini bisa diamati ada dua lapisan masyarakat; tokoh masyarakat atau ningrat yang pada umumnya punya pengalaman atau ilmu yang lebih tinggi dan lapisan masyarakat biasa yang termasuk golongan petani. Dahulu memang lapisan-lapisan dibentuk lebih formal. Lapisan masyarakat atas terdiri dari tokoh yang bergelar Singa yang mengurus tentang perkara tindakan-tindakan kriminal seperti perkelahian, perzinahan dan pencurian. Ama Bideda yang memberi keputusan apabila masalah tidak bisa diselesaikan oleh Kepala Burung yang mengadili urusan dalam bidang persengketaan, khususnya tanah ladang dan sawah. Kepala Adat yang menentukan adat, sangsi adat bersama Ama Bideda. Pengarah, yang memberi nasihat dan petunjuk dalam proses penyelesaian masalah (Petebang 2000 : 68). Di masyarakat Senapit ada balian, salah satu tokoh masyarakat yang memberi nasihat kepada warga desa dan yang mengobati orang dengan mantra dan upacara.
Pada suatu waktu di dusun Senapit, ada kasus perempuan yang baru menikah tetapi setelah beberapa bulan ada masalah dalam hubungan perkawinan. Perempuan dalam kasus ini berpikir bahwa suaminya tidak peduli atau cinta lagi. Dengan menggunakan ilmu gaibnya balian mencoba membuat baik hubungan itu dengan menggunakan jampi-jampi melalui pakaian suami perempuan itu.
Pada zaman dulu tidak hanya ada dua lapisan yang tadi disebut tetapi ada tiga lapisan; budak, orang bebas dan golongan atas tetapi setelah pemerintah kolonial mengundangkan aturan yang melarang perbudakan, tinggal dua lapisan masyarakat saja.
Di Senapit ada dua warung sembako, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja, yang dikelola oleh Pak Aloysius dan Pak Amir. Di Seles ada satu warung yang juga membeli getah karet beku. Sekitar tahun 1942 salah satu sekolah rakyat pertama di kecamatan Ledo didirikan di Senapit, karena pada waktu itu pemerintah berpendapat bahwa dusun Senapit terletak di tempat strategis yang akan berkembang pada masa depan. Dewasa ini dusun Senapit masih di daerah pelosok yang sampai sekarang belum strategis, tetapi jumlah anak yang bersekolah di SD Senapit sudah berjumlah 112 murid. Mereka datang dari dusun Seles yang jauhnya enam kilometer, dusun Sebangan yang jaraknya dua kilometer, dusun Tebalian jaraknya tiga kilometer dan dusun Sebawak jaraknya dua kilometer. Walaupun sekolah pada umumnya harus mulai jam tujuh pagi, karena dusun Seles jaraknya cukup jauh dari Senapit, sekolah mulai jam delapan sampai jam duabelas. Murid dari Seles yang berjalan kaki perlu satu setengah jam perjalanan, mereka membawa kotak nasi dan makan sarapan sambil berjalan ke sekolah. Ada enam kelas di SD Senapit. Di kelas satu dan kelas dua guru SD menggunakan bahasa Bakati sebagai bahasa pengantar dan dari kelas tiga sampai kelas enam bahasa Indonesia yang digunakan sebagai bahasa pengantar. Menurut informan 98 persen dari anak yang tamat SD melanjutkan pendidikan di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) yang terletak 21 kilometer jaraknya ke Ledo. Kebanyakan murid SLTP tinggal di kos, dengan keluarga atau teman yang berada di Ledo. Pada waktu libur mereka mudik.
Di dusun Senapit juga ada gereja Katolik dan tiap hari Minggu jam tujuh pagi ada misa. Walaupun semua penduduk di desa Seles masuk agama Katolik, tidak semua masuk gereja. Masyarakat di pelosok sering menganut agama secara nominal dan yang dikatakan oleh informan penganut Katolik, agama Katolik dan kepercayaan tradisional memang punya banyak persamaan. Misalnya mitos penciptaan dunia yang diceritakan di atas, menjadi salah satu contoh yang menjelaskan kesamaan tersebut. Masyarakat yang masih ikut kepercayaan tradisional, takut kehilangan kekuatan gaib yang hanya didapat dari kepercayaan tradisional. Walaupun mereka menganut agama resmi, akan tetapi upacara tradisional seperti saat membuka ladang, menanam padi, dan saat panen masih tetap dilaksanakan. Pertanian adalah faktor utama dalam budaya dan kepercayaan tradisional Dayak.
Di dusun ada pondok adat kecil yang suci yang terletak di dekat sekolah. Dalam pondok kecil tersebut ada beberapa tengkorak yang didapat oleh panglima pada masa lalu waktu mereka mengayau. Juga ada beberapa patung tradisional dan tempayan. Baru-baru ini beberapa tengkorak dan patung hilang. Rumput di tempat adat tersebut agak tinggi dan tidak dipelihara dengan baik lagi. Kebanyakan masyarakat tidak memeluk kepercayaan dari nenek moyang lagi dan tidak mengikuti tradisi adatnya secara penuh lagi.
Desa Seles adalah daerah pegunungan yang belum punya jalan lebar tetapi punya jalan setapak dari jalan raya beraspal sekitar 20 kilometer jauhnya. Ada beberapa sungai, seperti sungai Seles dan Teriak yang bisa diseberangi dengan jembatan yang dibuat oleh masyarakat dengan kawat besi dan papan kayu, yang cukup kuat untuk menyeberangkan sepeda motor. Pada musim hujan ada sampan yang sampai ke Bengkayang dan Ledo dari dusun Seles. Dua jam berjalan kaki jauhnya, ke arah timur terletak dusun Lembakarya yang didiami oleh orang Melayu. Hanya satu orang beragama Kristen tinggal di sana, dan dia pegawai negeri, guru SD. Beberapa kali seminggu, beberapa orang Senapit mampir di Lembakarya untuk menjual penghasilan karet dan membeli makanan pokok yang kurang cukup di Senapit. Dusun Lembakarya yang didirikan oleh orang Melayu asal dari Sambas terletak sekitar tujuh km dari Senapit dan letaknya strategis di pinggir sungai Sambas kecil
Pak Lumoni yang lahir pada tahun 1928 di dusun Lembakarya menceritakan bahwa, menurut mitos dari nenek-moyang, orang Melayu pada intinya berasal dari Minangkabau yang merantau ke Kalimantan beberapa abad lalu. Pada waktu Islam masuk sekitar abad ke-15, Sultan Syafiudin dari kerajaan Sambas menikah dengan perempuan Dayak Iban dari Brunei, artinya ada hubungan darah Melayu dengan Dayak. Sebagian masyarakat dari Sambas disuruh mencari nafkah di hulu sungai, karena itu mereka mendirikan Lembakarya, satu tempat aman dan strategis untuk perdagangan yang menjadi pusat daerah untuk tukar-menukar barang yang dibawa dari Sambas. Pak Lumoni masih ingat pada saat dia masih kecil pergi ke hulu sungai dari Sambas. Mereka melakukan perjalanan dengan membebani sampan sampai 500 kilogram dan menggunakan tenaga manusia untuk mendayung dengan galah dan sampai ke Lembakarya dalam waktu tiga atau empat hari.
Kelompok bahasa suku Dayak Kanayatan diklasifikasikan sebagai bagian keluarga dari bahasa induk Austronesia. Lebih persis sub keluarga bahasa Malayu-Polinesia Barat menurut sebuah organisasi ahli linguistik bernama Ethnologue. Suku Dayak Kanayatan berlokasi di utara dari Pontianak dan selatan dari perbatasan Malaysia-Indonesia. Kota yang penting di daerah suku Kanayatan adalah kota Bengkayang, Lumar, Sangga-Ledo, Salamantan, Menjalin, Darit, Ngabang dan Serimbu.

4.Mitos lisan
suku Dayak mempunyai banyak mitos lisan, pantun dan lagu-lagu yang nilainya penting dari sudut kebudayaan. Sastra lisan dalam bentuk lagu-lagu digunakan pada waktu tertentu, seperti lagu-lagu yang dinyanyikan pada waktu menidurkan anak-anak. Ada lagu untuk tarian yang dinyanyikan saat pesta, ada lagu lainnya yang dinyanyikan pada waktu panen atau sedang menggarap ladang. Ada juga lagu yang dinyanyikan pada waktu mengobati orang. Dukun atau yang dikenal dengan gelar balian menyanyikan lagu-lagu ritual dan mengucapkan mantra spiritual untuk menyenangkan roh atau malaikat baik, dan juga untuk mengusir roh yang jahat.
Ada sastra lisan dalam bentuk dongeng-dongeng dengan nilai-nilai moral atau epik yang diceritakan ketika semua warga desa berkumpul pada waktu malam. Ada sastra lisan yang diungkapkan pada waktu memakamkan jenazah dan upacara tertentu, dan juga ada sastra lisan dalam bentuk pantun seperti yang dikenal dalam sastra Melayu.

sumber: BEBERAPA PENGGAL KEHIDUPAN DAYAK KANAYATAN - Johan Weintré (UGM)

1

Kandungan dan Manfaat strawberry

Posted by Ratu mefi on 21.08 in
Stawberry merupakan buah yang segar juga menyehatkan. selain tampilannya yang menarik dan cantik, strawberry juga bebas lemak dan cocok untuk Anda yang sedang diet. Buah berwarna merah ini bisa membuat stabil metabolisme tubuh Anda dan menjaga hormon berfungsi dengan baik. 





ada pun Kandungan gizi buah strawberry segar seberat 160 gram mengandung :
energi 50 kalori
protein 1 gram
karbohidrat 11,65 gram
serat 3,81 gram
kalsium 23, 24 mg
magnesium 16,60 mg
fosfor 31,54 mg
potasium 44,82 mg
selenium 1,16 mg
vitamin C 94,12 mg
Folat 29,38 mg
Vitamin A 44,82 IU

Berikut adalah manfaat mengkonsumsi buah strawberry:

1. Memutihkan Gigi
Strawberry juga memiliki kekuatan tersendiri untuk memutihkan gigi Anda. Hancurkan buah Strawberry , kemudian dengan menggunakan jari, tempelkan pada gigi kemudian biarkan selama satu atau dua menit. Setelah itu gosok dengan sikat gigi secara menyeluruh. Untuk menghindari munculnya warna kuning pada gigi, sebaiknya gunakanlah sedotan kala minum teh, kopi, atau coca-cola. Dijamin minuman tak akan menyentuh gigi Anda.

2. Anti Kanker
Vitamin A yang terdapat di dalam buah ini, dapat membantu mencegah pembentukan radikal bebas, vitamin C menjaga reaksi bahaya di dalam sel, vitamin E can asam ellagic akan bertugas melindungi Binding sel Bari kerusakan karena radikal bebas. Asam ellagic akan membantu melumpuhkan kerja aktif sel kanker.

3. Anti Aging
Buah lambang cinta ini ternyata juga memiliki konsentrasi tujuh zat anti oksidan yang lebih tinggi dibandingkan buah atau sayuran lain, sehingga  Strawberry merupakan buah yang efektif mencegah proses oksidasi pada tubuh karena radikal bebas. Karena kandungan vitamin BI, B2, C dan Provitamin A pada  Strawberry dapat menghaluskan kulit dan membuat warna kulit lebih cerah, bersih serta dapat mencegah teriadinya pengeriputan pada kulit. 

4. Mengencangkan Kulit
Strawberry yang dimakan teratur dapat mengencangkan, menghaluskan, serta membuat warna kulit lebih cerah dan bersih. Selain dengan mengonsumsinya secara teratur tidak ada salahnya Anda mencoba resep ‘homemade’ lulur stroberi ini agar kulit Anda lebih ‘kinclong’. Siapkan 3 buah  Strawberry segar, 3 sendok makan madu, 3 sendok makan baking soda, 3 sendok makan gula pasir,
I beri sedikit air. Kemudian blenderlah semua bahan tadi hingga lembut. Stroberi akan membuat kulit Anda halus dan wangi, madu dipercaya mengandung banyak vitamin E, baking soda akan membantu membersihkan kulit, seclangkan gula yang berbentuk butiran akan bekerja seperti scrub yang akan membantu mengangkattumpukan Bel-Bel kulit math pada kulit Anda.

5. Menyehatkan rambut
Strawberry pun dapat berkhasiat untuk menyehatkan rambut. ikuti langkah-langkah nya. 
Masukan 10-12 strawberry segar dan satu cingkir yogurt kedalam blender, haluskan hingga tercampur rata. Oleskan pada rambut dan tutup dengan shower cap selama 30 menit. Bilas dengan air hangat dan lanjutkan dengan air dingin. Lakukan secara rutin seminggu sekali, rambutpun terlihat bersih, halus, lembut dan bebas ketombe.

6. Mengatasi Panas Dalam
Ternyata dengan menikmati jus stroberi dapat melenyapkan panas dalam. Nah, berikut resep jus Strawberry yang dapat Anda cobs di rumah. Untuk bahannya Anda perlu menyiapkan 5 buah stroberi segar, cuci bersih kemudian potong-potong, 100 cc susu kacang kedelai, gula pasir secukupnya, 8 potong es batu. Kemudian campur seluruh bahan, lalu blender halus, hidangkan langsung dalam keadaan dingin. Ehm, yammie bukan? Tahukah Anda, selain rasanya yang enak dan dapat mengatasi panas dalam, bila Anda rutin mengonsumsi jus stroberi ini ternyata resep ini memiliki khasiat lain seperti dapat menyegarkan tubuh Anda, meningkatan kreativitas, memenuhi kebutuhan Vit.0 dalam tubuh.

7. Mencegah Leukimia
Buah strawberry juga memiliki efek terapi yang sangat baik untuk mencegah penyakit leukimia, anemia (kurang darah) dan penyakit darah. Dua macam zat yang terkandung di dalamnya, “stroberi amine” clan “asam tanae,, memiliki efek mengekang pertumbuhan dan terjadinya tumor ganas.




Copyright © 2009 ♚ Ratu Mefi All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.